cerita fiksi

Surat dari Masa Depan fatimah menemukan surat itu di dalam kotak kayu tua peninggalan kakeknya. Kotak itu berdebu dan terkunci, tapi kuncinya tergantung rapi di paku dinding seolah menunggu untuk digunakan. Saat dibuka, hanya ada satu benda di dalamnya: sepucuk surat berwarna kuning kecokelatan, dengan tulisan tangan yang rapi dan tanggal yang aneh—23 April 2045. Dengan penasaran, fatimah mulai membaca: "Untuk fatimah, Jika kamu membaca ini, berarti waktunya telah tiba. Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku adalah kamu dari masa depan. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi waktuku terbatas dan surat ini hanya akan bertahan di dimensi ini selama beberapa menit. Pertama-tama, jangan ragu untuk mengikuti impianmu menjadi penulis. Aku tahu kamu sedang bimbang antara pekerjaan kantor dan hasratmu itu. Tapi percaya padaku, kisah-kisahmu punya kekuatan mengubah hidup orang lain. Jangan takut gagal. Kedua, jaga Ibu baik-baik. Dia tidak akan selalu ada. Luangkan lebih banyak waktu bersamanya. Kadang cinta yang paling besar ditunjukkan lewat hal-hal kecil, seperti mendengarkan ceritanya meski kamu sudah mendengarnya berulang kali. Terakhir, jangan cari kotak ini terlalu awal. Aku menyembunyikannya sampai kamu cukup dewasa untuk mengerti bahwa masa depan bisa berubah jika kamu membuat pilihan berbeda. Hidup adalah tentang keberanian memilih. Jadi pilihlah dengan hati. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan waktu, tapi kita bisa menentukan arah yang kita tuju. Salam dari dirimu sendiri fatimah– 2045 Raka membacanya dua kali, lalu tiga kali. Surat itu tidak masuk akal, tapi entah kenapa terasa benar. Ia menatap sekeliling kamar peninggalan kakeknya—atau mungkin ruang penyimpanan masa lalunya sendiri. Hari itu, fatimah pulang dengan hati yang bergetar. Ia menatap laptopnya yang selama ini hanya jadi pajangan. Tangannya gemetar saat mulai mengetik, tapi ada semangat baru di balik keraguannya. Keesokan harinya, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Orangtuanya kaget, teman-temannya menganggapnya gila. Tapi Raka merasa damai. Ia mulai menulis setiap hari, merangkai kisah-kisah yang selama ini hanya hidup di dalam kepalanya. Tahun-tahun berlalu. Buku pertamanya diterbitkan, lalu yang kedua, dan ketiga. Ia mulai diundang ke seminar, mengisi kelas menulis, bahkan menjadi inspirasi bagi banyak anak muda. Di usia 45,fatimah duduk di kamar kerjanya, menatap surat tua yang telah pudar. Ia mengambil kertas dan pena, dan mulai menulis surat baru—untuk dirinya yang masih muda, yang mungkin akan menemukan kotak itu lagi suatu hari nanti.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Inspiratif

soal Kata Imbuhan dan rangkuman